TANGERANG SELATAN – Dalam upaya terus meningkatkan mutu kurikulum dan menyelaraskan pendidikan arsitektur dengan isu keberlanjutan global, salah satu dosen Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Indonesia (ITI) telah berpartisipasi aktif dalam Workshop CAPSTONE-Hub. Lokakarya yang berlangsung pada tanggal 24 Juni hingga 26 Juni 2026 ini diselenggarakan atas kemitraan strategis antara University of Greenwich (UK) dan Universitas Pembangunan Jaya (Indonesia).
Selama tiga hari intensif, perwakilan dosen ITI bergabung bersama kelompok peserta lainnya untuk merumuskan cetak biru kurikulum masa depan yang transformatif dan berbasis pada Sustainable Development Goals (SDGs).
Berikut adalah poin-poin penting serta rangkaian kegiatan yang diikuti selama workshop berlangsung:
Hari Pertama: Sustainability in Curriculum Design
Fokus utama pada hari pertama adalah memetakan isu-isu keberlanjutan krusial dalam konteks urban di Indonesia untuk diintegrasikan ke dalam desain kurikulum pendidikan tinggi.
-
Pemetaan Isu Urban: Diskusi kelompok mengidentifikasi tantangan nyata perkotaan, seperti tata kelola lingkungan hidup, krisis manajemen sampah, kemacetan parah, hingga ketimpangan literasi digital.
-
Korelasi dengan SDGs: Isu pengelolaan sampah dikaitkan dengan SDG 6, 11, dan 12; kemacetan urban dikaitkan dengan SDG 11 dan transisi energi nasional; sedangkan literasi digital diposisikan dalam kerangka SDG 4.
-
Metode Pembelajaran Aktif: Disepakati implementasi metode yang berpusat pada mahasiswa, mengombinasikan Project-Based Learning (PjBL) dan Problem-Based Learning (PBL) melalui kunjungan lapangan (site visit), proyek berbasis komunitas, serta proyek capstone. Pendekatan ini berbasis pada teori Triple Bottom Line (People, Planet, Profit).
Hari Kedua: Capstone Module Design
Memasuki hari kedua, lokakarya berfokus pada perancangan modul proyek akhir komprehensif (Capstone Module) berskala internasional.
-
Struktur Alokasi Waktu: Struktur modul dirancang seimbang dengan proporsi 20% bimbingan langsung, 40% kerja mandiri, dan 40% kerja kelompok. Modul ini menerapkan model blended learning untuk mengatasi perbedaan zona waktu dan budaya.
-
Tema Lintas Disiplin: Proyek capstone diklasifikasikan ke dalam tema-tema terintegrasi, seperti Circular Economy & Waste System (Teknik Sipil, Industri, Logistik, Manajemen), Smart Waste Ecosystem, serta Digital Ethics System.
-
Mekanisme Penilaian & Mutu: Penilaian dirancang multi-bentuk yang mencakup peer review, rubrik terbobot, serta presentasi di hadapan pemangku kepentingan, didukung model bimbingan bersama (co-supervision) antar-institusi.
Hari Ketiga: Hub Design, Evaluation, and Integration
Hari terakhir didedikasikan untuk merumuskan tata kelola operasional dan keberlanjutan infrastruktur proyek jangka panjang.
-
Platform Repositori Bersama: Workshop menyepakati pembentukan platform repositori nasional yang terintegrasi dengan Learning Management System (LMS) bersama guna mendokumentasikan seluruh learning journey mahasiswa secara transparan.
-
Strategi Implementasi 4 Tahap: Keberlanjutan program dirancang melalui empat tahapan utama, meliputi pembangunan infrastruktur IT, standarisasi dan pelatihan dosen/mentor, eksekusi proyek percontohan (pilot project), hingga tahap perluasan kemitraan (scaling) dan kemandirian finansial.
Partisipasi dosen Arsitektur ITI dalam workshop ini diharapkan dapat membawa perspektif baru dalam pengembangan mata kuliah berbasis studio dan proyek akhir (capstone) di lingkungan ITI. Integrasi isu keberlanjutan perkotaan dan kerja sama interdisipliner yang didapat dari kemitraan University of Greenwich dan UPJ ini akan diadaptasi untuk memperkaya kompetensi lulusan Arsitektur ITI agar mampu menghadirkan solusi desain arsitektur dan lingkungan binaan yang tanggap terhadap tantangan SDGs.




