Mahasiswa Arsitektur ITI Telusuri Jejak Arsitektur Klasik hingga Modern di Jantung Jakarta

JAKARTA – Sebanyak lima kelompok mahasiswa arsitektur  ITI melakukan observasi lapangan intensif di berbagai sudut kota Jakarta pada Kamis, 23 April 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas mata kuliah Sejarah Arsitektur 2 yang bertujuan untuk membedah transformasi elemen desain dari masa ke masa.
Dosen pengampu mata kuliah menekankan bahwa survey ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan upaya kritis untuk menemukan “residu” atau sisa-sisa elemen arsitektur klasik yang masih dipertahankan maupun yang telah bertransformasi ke dalam bentuk modern pada bangunan fungsional saat ini.

Eksplorasi Lima Tipologi Bangunan

Para mahasiswa dibagi ke dalam lima kelompok besar dengan fokus amatan yang spesifik:
1. Kelompok 1 (Institusi Keuangan): Mengamati bagaimana wibawa arsitektur klasik (seperti kolom-kolom besar dan simetri) masih memengaruhi desain gedung perbankan modern di kawasan Sudirman demi menciptakan citra stabilitas dan kepercayaan.
2. Kelompok 2 (High-Tech Office): Menelusuri integrasi teknologi mutakhir pada perkantoran masa kini, sembari mencari elemen-elemen fundamental organisasi ruang yang berakar dari prinsip arsitektur awal abad ke-20.
3. Kelompok 3 (Ritel Premium): Menganalisis bagaimana ruang komersial kelas atas mengadopsi estetika material mewah dan proporsi ruang yang sering kali meminjam kemegahan ala bangunan monumental sejarah.
4. Kelompok 4 (Hotel Kontemporer): Membedah adaptasi langgam arsitektur dalam industri hospitalitas, di mana kenyamanan modern berpadu dengan aksen dekoratif yang merujuk pada kekayaan sejarah arsitektur tertentu.
5. Kelompok 5 (Bangunan Publik Baru): Meninjau wajah baru ruang publik Jakarta, melihat bagaimana keterbukaan akses (inklusivitas) diinterpretasikan melalui bentuk-bentuk geometris modern tanpa meninggalkan konteks sejarah lokasi tempatnya berdiri.

Menghubungkan Teori dan Realita

Fokus utama dari survey ini adalah pengamatan terhadap detail elemen arsitektur. Mahasiswa dituntut untuk mampu mengidentifikasi apakah sebuah ornamen, sistem fasad, atau struktur bangunan merupakan evolusi murni dari gaya klasik atau sebuah kontras radikal dari arsitektur modern.
“Kegiatan ini sangat penting agar mahasiswa tidak hanya memahami sejarah melalui buku teks, tetapi mampu melihat dan merasakan langsung bagaimana teori-teori tersebut diimplementasikan dalam skala nyata di ibu kota,” ujar Ibu Ir. Aliviana Demami, S.Ars, M.Ars, dosen pengampu matakuliah sejarah arsitektur 2.

Hasil dari survey lapangan ini nantinya akan disusun menjadi laporan kritik arsitektur yang komprehensif, sebagai bentuk apresiasi dan pemahaman mendalam terhadap perkembangan wajah arsitektur di Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Translate »