Penerapan Arsitektur Tropis Salihara Arts Center Jadi Objek Studi Kasus Mahasiswa ITI

Tantangan perubahan iklim global dan fenomena Urban Heat Island di kawasan perkotaan menuntut para perancang bangunan untuk semakin adaptif. Penerapan prinsip arsitektur tropis Salihara Arts Center menjadi salah satu rujukan nyata dalam eksplorasi desain bangunan yang responsif terhadap iklim tropis lembap di Indonesia, khususnya di wilayah DKI Jakarta.

Guna membedah secara langsung penerapannya, Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Indonesia (ITI) menyelenggarakan kegiatan kunjungan lapangan ke kompleks seni budaya tersebut pada Rabu, 1 Juli 2026. Kunjungan edukatif ini dirancang sebagai bentuk kolaborasi dan implementasi metode pembelajaran berbasis kasus (case-based method) untuk dua mata kuliah sekaligus, yaitu Teknologi Bangunan Tropis yang diampu oleh Ir. Estuti Rochimah, ST, M.Sc. serta Metode Perancangan Arsitektur 1 yang diampu oleh Ar. Jerrino Soedarno, MEP.Arch. Sebanyak 18 orang mahasiswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini di bawah bimbingan dan pendampingan langsung dari kedua dosen pengampu tersebut.

Mengapa Arsitektur Tropis Salihara Arts Center Menjadi Objek Studi Ideal?

Kompleks bangunan yang bertempat di Jl. Salihara No.16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini dikenal luas sebagai salah satu karya arsitektur kontemporer Indonesia yang berhasil memadukan fungsi estetika, seni, dan kenyamanan lingkungan. Anda dapat mempelajari profil lengkap kawasan ini melalui laman resmi Salihara Arts Center (https://salihara.org).

Keunggulan utama dari kawasan ini terletak pada kepekaan desainnya terhadap kondisi mikroklimat Jakarta serta metode perancangannya yang kaya akan ide dan solusi spasial. Konsep arsitektur tropis Salihara Arts Center menyajikan komposisi tata massa bangunan yang mengoptimalkan sirkulasi udara alami, penggunaan material lokal berdaya tahan tinggi, serta pengolahan lanskap hijau yang efektif mengurangi radiasi panas matahari.

Oleh karena itu, prinsip arsitektur tropis Salihara Arts Center dinilai sangat tepat sebagai laboratorium lapangan bagi mahasiswa Program Studi Arsitektur ITI untuk memahami bagaimana teori fisika bangunan serta tahapan metode perancangan arsitektur diterjemahkan ke dalam wujud rancangan nyata.

Eksplorasi Teknis Arsitektur Tropis Salihara Arts Center

Dalam kegiatan eksplorasi lapangan ini, mahasiswa melakukan observasi, pengukuran, dan dokumentasi teknis yang dibagi ke dalam dua aspek utama:

1. Tata Bangunan dan Detail Selubung (Building Envelope)

Pembahasan mengenai selubung bangunan dan tata massa merupakan elemen krusial baik dalam perancangan iklim tropis maupun pendekatan metode perancangan. Mahasiswa mengamati beberapa poin penting:

  • Tata & Bentuk Bangunan: Menganalisis orientasi massa bangunan terhadap lintasan matahari dan arah angin dominan. Penataan massa yang terfragmentasi pada kawasan ini terbukti mampu menciptakan lorong angin alami (wind tunnel effect) di antara massa bangunan.

  • Selubung Bangunan (Building Envelope): Membedah efektivitas penggunaan fasad bernapas (breathing facade), sun shading device (penangkal sinar matahari), serta rasio bukaan transparan untuk meminimalkan panas masuk (solar heat gain) tanpa mengorbankan masuknya cahaya alami.

  • Material & Sambungan Konstruksi: Mempelajari karakteristik material exposed concrete (beton ekspos), kayu, serta bata merah yang tahan terhadap kelembaban tinggi dan curah hujan ekstrim. Mahasiswa juga mencermati kerapian detail sambungan antar-material untuk mencegah kebocoran termal maupun air.

2. Kinerja Fisik Lingkungan (Physical Performance)

Tidak hanya mengamati wujud fisik, mahasiswa juga mengukur respons kenyamanan ruang secara terukur:

  • Pengukuran Kelembaban & Temperatur Udara: Dengan menggunakan alat ukur thermo-hygrometer, mahasiswa mencatat mikroklimat pada area interior, area semi-outdoor (selasar dan teras), serta area luar bangunan (outdoor). Data ini kemudian dibandingkan dengan standar kenyamanan termal ruang yang ditetapkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (https://www.bmkg.go.id).

  • Tata Pencahayaan Alami (Daylighting): Menguji tingkat pencahayaan (lux level) pada berbagai sudut ruang untuk memastikan bahwa penggunaan pencahayaan alami di siang hari telah memenuhi standar kenyamanan visual tanpa memicu peningkatan suhu udara interior secara signifikan.

Penerapan Case-Based Method dalam Pendidikan Arsitektur ITI

Metode pembelajaran berbasis kasus (case-based method) dirancang untuk mengubah paradigma pembelajaran konvensional dari yang berpusat pada dosen (teacher-centered) menjadi pembelajaran aktif yang berpusat pada mahasiswa (student-centered). Integrasi antara mata kuliah Teknologi Bangunan Tropis dan Metode Perancangan Arsitektur 1 ini memperkaya sudut pandang analisis mahasiswa secara lintas disiplin.

Dosen Pengampu Mata Kuliah Teknologi Bangunan Tropis, Ir. Estuti Rochimah, ST, M.Sc., menekankan pentingnya interaksi langsung mahasiswa dengan objek arsitektur secara realistik.

“Melalui studi kasus langsung pada penerapan arsitektur tropis Salihara Arts Center, mahasiswa tidak sekadar menghafal rumus fisika bangunan di dalam kelas. Mereka dapat merasakan, mengukur, dan membuktikan sendiri bagaimana keputusan desain—seperti pengolahan fasad dan orientasi bukaan—dapat berdampak langsung pada penurunan temperatur serta efisiensi energi bangunan,” jelas Ir. Estuti Rochimah.

Sementara itu, Dosen Pengampu Mata Kuliah Metode Perancangan Arsitektur 1, Ar. Jerrino Soedarno, MEP.Arch., menambahkan bahwa kunjungan ini membantu mahasiswa memahami proses berpikir arsitektural dari konsep awal hingga wujud terbangun.

“Melalui pengamatan langsung terhadap arsitektur tropis Salihara Arts Center, mahasiswa diajak untuk melatih kepekaan analisis perancangan. Mereka dapat mempelajari bagaimana seorang arsitek merespons konteks tapak, menyusun program ruang, serta mengeksekusi detail konstruksi secara runtut dan rasional,” pukas Ar. Jerrino Soedarno.

Kesimpulan dan Harapan Masa Depan

Eksplorasi lapangan terhadap arsitektur tropis Salihara Arts Center ini membuktikan bahwa pendekatan rancangan pasif (passive design) dan metode perancangan yang kuat mampu menciptakan bangunan yang tidak hanya estetis, tetapi juga hemat energi dan nyaman dihuni.

Melalui kegiatan pembelajaran berbasis kasus ini, Institut Teknologi Indonesia (https://iti.ac.id) terus berkomitmen melahirkan lulusan arsitek yang inovatif, peka terhadap konteks lokal, serta siap menjawab tantangan perancangan bangunan ramah lingkungan (sustainable architecture) di masa depan.

Talkshow Architecture after Intelligence Buka Diskusi AI di ICE BSD

Talkshow Architecture after Intelligence resmi dibuka di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, pada Sabtu, 11 Juli 2026. Acara kearsitekturan bernuansa futuristik ini mengusung tema lengkap “Architecture after Intelligence: Ketika AI Mengubah Cara Kita Mendesain dan Berpikir”.

Pelaksanaan perhelatan Talkshow Architecture after Intelligence ini digagas melalui kolaborasi strategis antara Indonesia Construction & Architecture Network (ICAN) bersama pameran bahan bangunan terbesar IndoBuildTech Expo, serta mendapat dukungan penuh dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI Banten). Rangkaian acara ini diselenggarakan bertepatan dengan ajang tahunan IndoBuildTech Expo yang berlangsung mulai 8 hingga 12 Juli 2026.

Pembukaan Resmi Talkshow Architecture after Intelligence oleh Akademisi

Sesi pembukaan Talkshow Architecture after Intelligence ditandai dengan Opening Speech dari Jerrino Soedarno, S.T., M.T., Tenaga Pengajar Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Indonesia (ITI) yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Kehormatan IAI Banten.

Dalam pidatonya di Talkshow Architecture after Intelligence, Jerrino menegaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan komputasi digital bukanlah hal yang asing. Perkembangan teknologi komputasi ini sejatinya telah diinisiasi sejak era 1950-an dan terus berevolusi hingga saat ini demi menjawab tuntutan produktivitas, efisiensi sumber daya, ketepatan hasil, serta pemangkasan kesalahan (human error).

Urgensi Adaptasi AI dalam Industri Arsitektur Modern

Dinamika industri arsitektur saat ini kian kompleks dan menuntut kecepatan serta inovasi tinggi dalam kompetisi bisnis desain. Oleh karena itu, hadirnya Talkshow Architecture after Intelligence menjadi sarana krusial untuk mengedukasi para praktisi agar mampu memanfaatkan teknologi pendukung secara optimal.

Beberapa poin penting yang mengemuka dalam Talkshow Architecture after Intelligence meliputi:

  • Peningkatan Produktivitas: Integrasi AI membantu mempercepat tahapan analisis spasial, simulasi bangunan, hingga konseptualisasi desain.

  • Daya Saing Global: Para arsitek lokal didorong untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan mampu beradaptasi dan berperan aktif sebagai pemain global.

  • Efisiensi Kerja: Penggunaan AI dan teknologi digital akan memegang peranan krusial dalam praktik arsitektur masa kini hingga masa depan.

Perumusan Norma dan Etika Berpraktik di Era AI

Tidak hanya menyoroti kemajuan teknologi, perhelatan Talkshow Architecture after Intelligence juga membuka ruang diskusi kritis mengenai regulasi. Seiring meningkatnya adopsi AI dalam studio desain, diperlukan perangkat aturan serta norma-norma berpraktik yang dapat menjaga standar etika profesi dan pelindungan karya cipta.

Diskusi interaktif ini disambut hangat oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan, termasuk praktisi arsitek, dosen, mahasiswa, hingga pemangku kepentingan sektor konstruksi. Informasi lebih lanjut mengenai agenda akademis dan kajian kearsitekturan terkini juga dapat diakses melalui portal resmi Program Studi Arsitektur ITI.

Glodon AEC Connect Day Indonesia 2026: Dosen ITI Serap Teknologi BIM

Glodon AEC Connect Day Indonesia 2026 menjadi momentum penting bagi civitas akademika dalam menyelaraskan dunia pendidikan tinggi dengan pesatnya perkembangan teknologi industri konstruksi global. Pada Selasa, 12 Mei 2026, salah satu dosen Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Indonesia (ITI) menghadiri perhelatan bergengsi tersebut yang diselenggarakan secara megah di Samisara Grand Ballroom, Sopo Del Tower, Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Kehadiran perwakilan akademisi dalam forum Glodon AEC Connect Day Indonesia 2026 ini mempertegas komitmen berkelanjutan dari kampus ITI untuk terus memperbarui kurikulum dan metode pengajaran berbasis teknologi digital. Industri arsitektur saat ini tidak lagi hanya berbicara tentang estetika visual atau gambar 2D manual semata, melainkan telah bergerak pesat menuju ekosistem digital yang saling terintegrasi dari hulu ke hilir.

Peran Forum Internasional Glodon AEC Connect Day Indonesia 2026 dalam Transformasi Digital

Eksibisi dan konferensi Glodon AEC Connect Day Indonesia 2026 merupakan forum tahunan berskala internasional yang mempertemukan para profesional, akademisi, peneliti, serta praktisi terkemuka di bidang Architecture, Engineering, and Construction (AEC). Perusahaan teknologi terkemuka seperti Glodon Indonesia terus memelopori efisiensi sektor konstruksi melalui platform digital terpadu berbasis cloud dan data spasial.

Fokus utama dalam perhelatan Glodon AEC Connect Day Indonesia 2026 tahun ini menekankan pada percepatan transformasi digital melalui integrasi teknologi Building Information Modeling (BIM) dan Artificial Intelligence (AI). Penerapan inovasi komputasi cerdas ini bertujuan untuk menciptakan alur kerja perencanaan hingga pelaksanaan konstruksi fisik yang jauh lebih efisien, presisi, ramah lingkungan (sustainable), serta minim risiko pemborosan material.

Penguatan Kurikulum Akademis Melalui Jejaring Industri AEC

Sepanjang berlangsungnya Glodon AEC Connect Day Indonesia 2026, perwakilan dosen ITI berkesempatan mengikuti berbagai sesi diskusi panel eksklusif yang dipimpin langsung oleh para pakar teknologi konstruksi global. Selain menyerap peta jalan (roadmap) teknologi AEC terbaru, momentum langka ini dimanfaatkan secara maksimal untuk memperluas jejaring profesional (networking) dengan para pemangku kepentingan industri, kontraktor utama, dan penyedia perangkat lunak.

Poin-poin penting dari partisipasi dalam Glodon AEC Connect Day Indonesia 2026 meliputi:

  • Modernisasi Kurikulum Kampus: Pengayaan materi perkuliahan berbasis perangkat lunak BIM, pemodelan 3D, dan simulasi elemen konstruksi digital terkini.

  • Peningkatan Keterampilan Praktis Mahasiswa: Menyiapkan lulusan agar familiar dengan alur kerja kolaboratif digital yang menjadi standar di dunia industri global.

  • Sinergi Akademis dan Industri: Membuka peluang kolaborasi riset, program magang industri, serta penyaluran kerja bagi lulusan arsitektur.

Mencetak Lulusan Arsitektur ITI yang Adaptif dan Siap Kerja

Penerapan teknologi modern dalam dunia pendidikan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mutlak. Seluruh wawasan, riset, dan panduan praktis yang diperoleh dari Glodon AEC Connect Day Indonesia 2026 ini nantinya akan diintegrasikan secara langsung ke dalam silabus materi perkuliahan di lingkungan Program Studi Arsitektur ITI.

Langkah strategis ini diharapkan dapat memastikan para mahasiswa Arsitektur ITI lulus sebagai talenta digital unggulan yang siap kerja, adaptif, serta mampu memimpin proyek-proyek konstruksi modern di masa depan. Penguatan kompetensi berbasis teknologi ini juga sejalan dengan arah kebijakan digitalisasi nasional yang terus didorong oleh Kementerian PUPR dalam mempercepat adopsi teknologi BIM pada pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Konstruksi Kayu Modern: Mahasiswa Arsitektur ITI Studi Lapangan ke PIK 2

Konstruksi Kayu Modern: Mahasiswa Arsitektur ITI Studi Lapangan ke PIK 2

Tangerang Selatan – Konstruksi kayu kini kembali menjadi primadona dalam tren arsitektur berkelanjutan global. Dalam upaya memperkuat pemahaman praktis mengenai teknologi bangunan ramah lingkungan ini, sejumlah mahasiswa Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Indonesia (ITI) semester 4 dan 6 melaksanakan kegiatan studi lapangan (field study) ke Paviliun 120. Eksplorasi material ini berlokasi di Indonesia Design District (IDD), Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, pada Rabu (3/6).

Kegiatan akademik ini dirancang khusus untuk menjembatani teori perkuliahan di kelas dengan aplikasi riil di industri arsitektur modern. Di era green building, penguasaan terhadap konstruksi kayu yang presisi menjadi nilai tambah yang sangat krusial bagi calon arsitek.

Pentingnya Memahami Konstruksi Kayu untuk Iklim Tropis

Selama empat jam intensif, dari pukul 10.00 hingga 14.00 WIB, para mahasiswa mengikuti rangkaian agenda yang menggabungkan pemaparan materi, diskusi interaktif, serta observasi fisik bangunan. Eksplorasi ini dipandu langsung oleh tim ahli material yang menjelaskan bagaimana kayu dapat diolah menjadi struktur utama bangunan modern yang megah namun tetap ramah lingkungan.

Dalam kunjungan ini, mahasiswa mendapatkan product knowledge mendalam mengenai material kayu. Industri arsitektur saat ini dituntut untuk tidak hanya mengejar estetika, tetapi juga durabilitas. Oleh karena itu, materi yang dipaparkan meliputi:

  • Karakteristik anatomi dan sifat fisik berbagai jenis kayu struktural.

  • Tingkat durabilitas dan metode pengawetan material terhadap cuaca ekstrem.

  • Teknik pemilihan material yang ideal untuk konstruksi kayu di iklim tropis.

Tidak hanya sebatas pengenalan material, narasumber dari Paviliun 120 juga membedah sistem konstruksi kayu pada bangunan mereka. Paviliun 120 sendiri dikenal luas di kalangan arsitek tanah air karena memiliki detail struktur yang presisi, estetis, dan menerapkan prinsip-prinsip tektonika kayu maju yang menentang batasan konvensional.

Aplikasi Praktis Tektonika dan Metode Sambungan Kayu

Setelah sesi paparan dan tanya jawab interaktif, kegiatan dilanjutkan dengan observasi lapangan terpandu. Pada sesi ini, mahasiswa tidak hanya melihat visual bangunan, tetapi juga melakukan pengukuran langsung (on-site measurement) untuk memahami dimensi struktural, modulasi material, dan skala ruang secara akurat.

Melalui pengukuran langsung, mahasiswa dapat melihat bagaimana sambungan (joint) pada konstruksi kayu bekerja menahan beban struktural bangunan. Pemahaman ruang secara tiga dimensi ini sangat sulit didapatkan jika hanya mengandalkan modul perkuliahan dua dimensi atau layar komputer.

Sebagai penutup agenda, mahasiswa ditantang untuk melakukan observasi mandiri. Dengan antusias yang tinggi, mereka menuangkan detail-detail tektonika, sambungan, dan estetika ruang Paviliun 120 ke dalam bentuk sketsa arsitektur tangan (hand-sketching). Aktivitas menggambar manual ini terbukti efektif dalam melatih kepekaan spasial, kepekaan material, serta memori visual calon arsitek sebelum mereka merancang secara digital.

Menyiapkan Lulusan Arsitektur ITI yang Unggul dan Inovatif

Melalui kegiatan field study ini, mahasiswa Arsitektur ITI diharapkan mampu mengintegrasikan pengetahuan material penutup (cladding) dan sistem konstruksi kayu ke dalam rancangan proyek studio mereka di semester-semester berikutnya. Kemampuan merancang dengan material kayu modern seperti Cross-Laminated Timber (CLT) atau Glulam menjadi kompetensi masa depan yang terus didorong oleh program studi.

Turut hadir mendampingi mahasiswa selama kegiatan berlangsung, Intan Findanavy Ridzqo, S.T., M.Ars., selaku dosen pendamping dari Prodi Arsitektur ITI. Kehadiran dosen pendamping memastikan bahwa setiap observasi yang dilakukan mahasiswa di lapangan tetap selaras dengan capaian pembelajaran mata kuliah teknologi bangunan dan bahan bangunan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kurikulum di kampus kami, Anda dapat mengunjungi laman resmi Prodi Arsitektur ITI. Selain itu, bagi yang tertarik mempelajari tren global bangunan berkelanjutan berbasis kayu, Anda dapat membaca referensi standar internasional di Architecture 2030 sebagai rujukan desain ramah lingkungan.

Transformasi Arsitektur Jakarta: Mahasiswa Arsitektur ITI Bedah Elemen Klasik hingga Modern

Transformasi Arsitektur Jakarta: Mahasiswa Arsitektur ITI Bedah Elemen Klasik hingga Modern

JAKARTA – Transformasi wajah kota Jakarta merupakan laboratorium hidup yang menyimpan lapisan sejarah panjang. Pada Kamis, 23 April 2026, sebanyak lima kelompok mahasiswa Arsitektur ITI melakukan observasi lapangan intensif di berbagai titik strategis ibu kota. Kegiatan ini merupakan bagian inti dari mata kuliah Sejarah Arsitektur 2 yang bertujuan untuk membedah evolusi elemen desain dari masa ke masa.

Dosen pengampu mata kuliah menekankan bahwa survei ini merupakan upaya kritis untuk menemukan “residu” arsitektur. Istilah ini merujuk pada sisa-sisa elemen arsitektur klasik yang masih dipertahankan, maupun yang telah bertransformasi ke dalam bentuk Modern Architecture pada bangunan fungsional saat ini.

Eksplorasi Lima Tipologi Bangunan

Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif mengenai transformasi Vernacular and Classical Architecture dalam konteks urban, mahasiswa dibagi ke dalam lima kelompok besar dengan fokus amatan spesifik:
1. Kelompok 1 (Institusi Keuangan): Mengamati bagaimana wibawa arsitektur klasik (seperti kolom-kolom besar dan simetri) masih memengaruhi desain gedung perbankan modern di kawasan Sudirman demi menciptakan citra stabilitas dan kepercayaan.
2. Kelompok 2 (High-Tech Office): Menelusuri integrasi teknologi mutakhir pada perkantoran masa kini, sembari mencari elemen-elemen fundamental organisasi ruang yang berakar dari prinsip arsitektur awal abad ke-20.
3. Kelompok 3 (Ritel Premium): Menganalisis bagaimana ruang komersial kelas atas mengadopsi estetika material mewah dan proporsi ruang yang sering kali meminjam kemegahan ala bangunan monumental sejarah.
4. Kelompok 4 (Hotel Kontemporer): Membedah adaptasi langgam arsitektur dalam industri hospitalitas, di mana kenyamanan modern berpadu dengan aksen dekoratif yang merujuk pada kekayaan sejarah arsitektur tertentu.
5. Kelompok 5 (Bangunan Publik Baru): Meninjau wajah baru ruang publik Jakarta, melihat bagaimana keterbukaan akses (inklusivitas) diinterpretasikan melalui bentuk-bentuk geometris modern tanpa meninggalkan konteks sejarah lokasi tempatnya berdiri.

Menghubungkan Teori dan Realita

Fokus utama dari survey transformasi arsitektur ini adalah pengamatan terhadap detail elemen arsitektur. Mahasiswa dituntut untuk mampu mengidentifikasi apakah sebuah ornamen, sistem fasad, atau struktur bangunan merupakan evolusi murni dari gaya klasik atau sebuah kontras radikal dari arsitektur modern.
“Kegiatan ini sangat penting agar mahasiswa tidak hanya memahami sejarah melalui buku teks, tetapi mampu melihat dan merasakan langsung bagaimana teori-teori tersebut diimplementasikan dalam skala nyata di ibu kota,” ujar Ibu Ir. Aliviana Demami, S.Ars, M.Ars, dosen pengampu matakuliah sejarah arsitektur 2.

Hasil dari survey lapangan ini nantinya akan disusun menjadi laporan yang komprehensif, sebagai bentuk apresiasi dan pemahaman mendalam terhadap perkembangan wajah arsitektur di Indonesia.

Translate »