Penerapan Arsitektur Tropis Salihara Arts Center Jadi Objek Studi Kasus Mahasiswa ITI

Tantangan perubahan iklim global dan fenomena Urban Heat Island di kawasan perkotaan menuntut para perancang bangunan untuk semakin adaptif. Penerapan prinsip arsitektur tropis Salihara Arts Center menjadi salah satu rujukan nyata dalam eksplorasi desain bangunan yang responsif terhadap iklim tropis lembap di Indonesia, khususnya di wilayah DKI Jakarta.

Guna membedah secara langsung penerapannya, Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Indonesia (ITI) menyelenggarakan kegiatan kunjungan lapangan ke kompleks seni budaya tersebut pada Rabu, 1 Juli 2026. Kunjungan edukatif ini dirancang sebagai bentuk kolaborasi dan implementasi metode pembelajaran berbasis kasus (case-based method) untuk dua mata kuliah sekaligus, yaitu Teknologi Bangunan Tropis yang diampu oleh Ir. Estuti Rochimah, ST, M.Sc. serta Metode Perancangan Arsitektur 1 yang diampu oleh Ar. Jerrino Soedarno, MEP.Arch. Sebanyak 18 orang mahasiswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini di bawah bimbingan dan pendampingan langsung dari kedua dosen pengampu tersebut.

Mengapa Arsitektur Tropis Salihara Arts Center Menjadi Objek Studi Ideal?

Kompleks bangunan yang bertempat di Jl. Salihara No.16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini dikenal luas sebagai salah satu karya arsitektur kontemporer Indonesia yang berhasil memadukan fungsi estetika, seni, dan kenyamanan lingkungan. Anda dapat mempelajari profil lengkap kawasan ini melalui laman resmi Salihara Arts Center (https://salihara.org).

Keunggulan utama dari kawasan ini terletak pada kepekaan desainnya terhadap kondisi mikroklimat Jakarta serta metode perancangannya yang kaya akan ide dan solusi spasial. Konsep arsitektur tropis Salihara Arts Center menyajikan komposisi tata massa bangunan yang mengoptimalkan sirkulasi udara alami, penggunaan material lokal berdaya tahan tinggi, serta pengolahan lanskap hijau yang efektif mengurangi radiasi panas matahari.

Oleh karena itu, prinsip arsitektur tropis Salihara Arts Center dinilai sangat tepat sebagai laboratorium lapangan bagi mahasiswa Program Studi Arsitektur ITI untuk memahami bagaimana teori fisika bangunan serta tahapan metode perancangan arsitektur diterjemahkan ke dalam wujud rancangan nyata.

Eksplorasi Teknis Arsitektur Tropis Salihara Arts Center

Dalam kegiatan eksplorasi lapangan ini, mahasiswa melakukan observasi, pengukuran, dan dokumentasi teknis yang dibagi ke dalam dua aspek utama:

1. Tata Bangunan dan Detail Selubung (Building Envelope)

Pembahasan mengenai selubung bangunan dan tata massa merupakan elemen krusial baik dalam perancangan iklim tropis maupun pendekatan metode perancangan. Mahasiswa mengamati beberapa poin penting:

  • Tata & Bentuk Bangunan: Menganalisis orientasi massa bangunan terhadap lintasan matahari dan arah angin dominan. Penataan massa yang terfragmentasi pada kawasan ini terbukti mampu menciptakan lorong angin alami (wind tunnel effect) di antara massa bangunan.

  • Selubung Bangunan (Building Envelope): Membedah efektivitas penggunaan fasad bernapas (breathing facade), sun shading device (penangkal sinar matahari), serta rasio bukaan transparan untuk meminimalkan panas masuk (solar heat gain) tanpa mengorbankan masuknya cahaya alami.

  • Material & Sambungan Konstruksi: Mempelajari karakteristik material exposed concrete (beton ekspos), kayu, serta bata merah yang tahan terhadap kelembaban tinggi dan curah hujan ekstrim. Mahasiswa juga mencermati kerapian detail sambungan antar-material untuk mencegah kebocoran termal maupun air.

2. Kinerja Fisik Lingkungan (Physical Performance)

Tidak hanya mengamati wujud fisik, mahasiswa juga mengukur respons kenyamanan ruang secara terukur:

  • Pengukuran Kelembaban & Temperatur Udara: Dengan menggunakan alat ukur thermo-hygrometer, mahasiswa mencatat mikroklimat pada area interior, area semi-outdoor (selasar dan teras), serta area luar bangunan (outdoor). Data ini kemudian dibandingkan dengan standar kenyamanan termal ruang yang ditetapkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (https://www.bmkg.go.id).

  • Tata Pencahayaan Alami (Daylighting): Menguji tingkat pencahayaan (lux level) pada berbagai sudut ruang untuk memastikan bahwa penggunaan pencahayaan alami di siang hari telah memenuhi standar kenyamanan visual tanpa memicu peningkatan suhu udara interior secara signifikan.

Penerapan Case-Based Method dalam Pendidikan Arsitektur ITI

Metode pembelajaran berbasis kasus (case-based method) dirancang untuk mengubah paradigma pembelajaran konvensional dari yang berpusat pada dosen (teacher-centered) menjadi pembelajaran aktif yang berpusat pada mahasiswa (student-centered). Integrasi antara mata kuliah Teknologi Bangunan Tropis dan Metode Perancangan Arsitektur 1 ini memperkaya sudut pandang analisis mahasiswa secara lintas disiplin.

Dosen Pengampu Mata Kuliah Teknologi Bangunan Tropis, Ir. Estuti Rochimah, ST, M.Sc., menekankan pentingnya interaksi langsung mahasiswa dengan objek arsitektur secara realistik.

“Melalui studi kasus langsung pada penerapan arsitektur tropis Salihara Arts Center, mahasiswa tidak sekadar menghafal rumus fisika bangunan di dalam kelas. Mereka dapat merasakan, mengukur, dan membuktikan sendiri bagaimana keputusan desain—seperti pengolahan fasad dan orientasi bukaan—dapat berdampak langsung pada penurunan temperatur serta efisiensi energi bangunan,” jelas Ir. Estuti Rochimah.

Sementara itu, Dosen Pengampu Mata Kuliah Metode Perancangan Arsitektur 1, Ar. Jerrino Soedarno, MEP.Arch., menambahkan bahwa kunjungan ini membantu mahasiswa memahami proses berpikir arsitektural dari konsep awal hingga wujud terbangun.

“Melalui pengamatan langsung terhadap arsitektur tropis Salihara Arts Center, mahasiswa diajak untuk melatih kepekaan analisis perancangan. Mereka dapat mempelajari bagaimana seorang arsitek merespons konteks tapak, menyusun program ruang, serta mengeksekusi detail konstruksi secara runtut dan rasional,” pukas Ar. Jerrino Soedarno.

Kesimpulan dan Harapan Masa Depan

Eksplorasi lapangan terhadap arsitektur tropis Salihara Arts Center ini membuktikan bahwa pendekatan rancangan pasif (passive design) dan metode perancangan yang kuat mampu menciptakan bangunan yang tidak hanya estetis, tetapi juga hemat energi dan nyaman dihuni.

Melalui kegiatan pembelajaran berbasis kasus ini, Institut Teknologi Indonesia (https://iti.ac.id) terus berkomitmen melahirkan lulusan arsitek yang inovatif, peka terhadap konteks lokal, serta siap menjawab tantangan perancangan bangunan ramah lingkungan (sustainable architecture) di masa depan.

Peluncuran Buku Rumah Bangka Melayu: Arsitektur ITI Bedah Tektonika

Peluncuran buku “Rumah Bangka Melayu” menjadi tonggak sejarah baru dalam upaya pelestarian dan pendokumentasian arsitektur Nusantara. Karya literatur berharga ini diinisiasi oleh tim Vernadoc Indonesia di bawah pimpinan Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, berkolaborasi dengan Yayasan Tenggara yang diketuai oleh Siti Arfah Annisa. Acara bersejarah ini diselenggarakan pada Minggu, 26 Juli 2026, pukul 16.00–18.00 WIB bertempat di Toko Buku Belakang, Bintaro, Tangerang Selatan.

Perhelatan peluncuran buku “Rumah Bangka Melayu” tidak hanya diisi dengan bedah karya literatur, tetapi juga diperkaya dengan sesi diskusi mendalam bersama para pakar. Dalam kesempatan bergengsi tersebut, Dosen Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Indonesia (ITI), Intan Findanavy Ridzqo, S.T., M.Ars., hadir sebagai narasumber utama untuk mengulas sisi teknis rancang bangun tradisional tersebut.

Bedah Tektonika dan Struktur Kayu dalam Peluncuran Buku Rumah Bangka Melayu

Dalam paparan ilmiahnya pada peluncuran buku “Rumah Bangka Melayu”, Intan membawakan materi bertajuk “Tektonika pada Struktur dan Konstruksi Rumah Panggung Kayu Melayu di Bangka”. Presentasi ini memberikan pemahaman komprehensif mengenai local genius atau kecerdasan lokal masyarakat Bangka dalam merespons iklim serta lingkungan sekitar melalui sistem sambungan dan konstruksi kayu yang adaptif.

Kehadiran Intan sebagai pemateri utama sangat lekat dengan rekam jejak akademisnya. Beliau merupakan salah satu peneliti kunci yang terjun langsung dalam riset mendalam mengenai arsitektur tradisional rumah panggung Bangka pada tahun 2018 silam.

Riset kolaboratif berskala besar ini sebelumnya juga telah mendapatkan perhatian publik dan dipamerkan dalam “Pameran Arsitektur Tradisional Rumah Panggung” yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI).

Hilirisasi Riset dari Literasi Menjadi Inovasi Produk Edukasi

Bagi civitas akademika Program Studi Arsitektur ITI, kegiatan penelitian tidak boleh sekadar berhenti di atas kertas atau menjadi tumpukan laporan akademis semata. Sejalan dengan semangat peluncuran buku “Rumah Bangka Melayu” yang mendokumentasikan kekayaan budaya, momentum ini menjadi sarana strategis bagi kampus ITI untuk mempromosikan hilirisasi riset berbasis produk nyata.

Kajian tektonika dan struktur rumah panggung Bangka yang rumit kini telah sukses ditransformasikan oleh tim Arsitektur ITI menjadi media edukatif interaktif, yakni Puzzle 3D Rumah Kayu Bangka.

Produk inovasi luaran riset ini memiliki beragam keunggulan:

  • Media Pembelajaran Taktil: Memudahkan generasi muda memahami logika struktur dan sambungan kayu secara visual dan menyenangkan.

  • Produk Unggulan (Flagship): Menjadi ikon media peraga edukasi arsitektur resmi dari Prodi Arsitektur ITI.

  • Komersialisasi & Edukasi: Mengolah hasil riset kampus menjadi produk kreatif bernilai jual yang mampu mengedukasi masyarakat luas mengenai arsitektur tradisional Indonesia.

Sinergi Multidisiplin demi Pelestarian Arsitektur Nusantara

Kolaborasi erat antara akademisi ITI, Vernadoc Indonesia, dan Yayasan Tenggara dalam peluncuran buku “Rumah Bangka Melayu” menjadi bukti nyata pentingnya keterlibatan berbagai pihak. Pelestarian warisan kearsitekturan membutuhkan ekosistem menyeluruh mulai dari riset pemetaan di lapangan, penerbitan literasi buku, hingga penciptaan produk turunan yang relevan dengan generasi muda di era digital.

Melalui sinergi riset dan aksi nyata ini, diharapkan arsitektur tradisional tidak hanya dikenang sebagai sejarah, melainkan terus hidup dan menginspirasi perkembangan arsitektur Indonesia di masa depan.

Penghargaan Arsitek IAI Banten 2025: Jerrino Soedarno Raih Juara

Penghargaan Arsitek IAI Banten 2025 menjadi panggung apresiasi bergengsi bagi insan kearsitekturan tanah air. Dosen sekaligus praktisi arsitek ternama, Jerrino Soedarno, S.T., M.T., sukses menorehkan prestasi gemilang dalam perhelatan ini. Beliau berhasil memboyong penghargaan tertinggi untuk kategori Karya Arsitektur Bangunan Khusus melalui rancangan inovatifnya yang bertajuk “Laboratorium Putar Fasad Bangunan”.

Penyerahan trofi kemenangan dalam ajang Penghargaan Arsitek IAI Banten 2025 ini dilangsungkan secara khidmat pada malam penganugerahan yang diinisiasi oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI Banten). Acara puncak tersebut diselenggarakan pada Minggu, 9 November 2025, bertempat di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang.

Inovasi Laboratorium Putar Fasad Bangunan di Penghargaan Arsitek IAI Banten 2025

Karya “Laboratorium Putar Fasad Bangunan” yang digagas oleh Jerrino Soedarno berhasil mencuri perhatian dewan juri Penghargaan Arsitek IAI Banten 2025 berkat keunikan fungsi serta pendekatan teknisnya yang sangat spesifik. Sebagai fasilitas bangunan khusus, laboratorium eksperimental ini dirancang secara presisi untuk menguji performa selubung luar atau fasad bangunan secara dinamis terhadap paparan sinar matahari, orientasi angin, serta kondisi iklim lingkungan sekitar secara real-time.

Inovasi rancang bangun ini menjadi terobosan yang sangat krusial dalam mendukung riset arsitektur berkelanjutan (sustainable architecture) serta peningkatan efisiensi energi bangunan di Indonesia. Melalui mekanisme perputaran fasad yang terintegrasi dengan sensor digital, para peneliti dapat mengukur tingkat pencahayaan alami, pergerakan termal, hingga tingkat penyerapan panas material bangunan secara akurat pada berbagai sudut datang sinar matahari.

Peran Strategis Penghargaan Arsitek IAI Banten 2025 bagi Industri Konstruksi

Ajang Penghargaan Arsitek IAI Banten 2025 sendiri merupakan bentuk apresiasi tertinggi dari asosiasi profesi terhadap karya-karya arsitektur yang menunjukkan eksistensi, kebaruan ide, serta kontribusi nyata bagi perkembangan industri fisik. Keberadaan forum apresiasi tahunan ini mendorong para arsitek lokal untuk tidak hanya menciptakan bangunan yang indah secara estetika visual, melainkan juga responsif terhadap isu krisis iklim global.

Kemenangan yang diraih oleh Jerrino Soedarno dalam Penghargaan Arsitek IAI Banten 2025 membuktikan betapa pentingnya sinergi antara riset akademis dan praktik profesional di lapangan. Kategori Bangunan Khusus yang dimenangkannya menegaskan bahwa riset kearsitekturan dapat diwujudkan dalam bentuk fisik yang fungsional, teruji secara ilmiah, serta memberikan dampak nyata bagi pengembangan teknologi konstruksi hijau nasional.

Kontribusi Akademis dan Dampak Pengabdian Kampus ITI

Prestasi dalam Penghargaan Arsitek IAI Banten 2025 ini tidak hanya memperkuat rekam jejak profesional Jerrino Soedarno di industri kearsitekturan, tetapi juga membawa harum nama civitas akademika Program Studi Arsitektur ITI. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa tenaga pengajar perguruan tinggi mampu bersaing di tingkat profesional dan memelopori riset terapan berstandar tinggi.

Informasi serta hasil eksperimen dari fasilitas laboratorium riset ini nantinya akan memperkaya materi pembelajaran di ruang kuliah. Apresiasi dari asosiasi profesi ini diharapkan mampu memotivasi para praktisi, dosen, serta mahasiswa arsitektur lainnya untuk terus melahirkan karya-karya yang transformatif. Dengan semangat riset berbasis efisiensi energi yang diakui dalam Penghargaan Arsitek IAI Banten 2025, dunia arsitektur di Indonesia optimis bergerak ke arah yang lebih hijau dan berdaya saing global sejalan dengan regulasi dari Kementerian PUPR.

Forum Diskusi Nusantara Banten Architecture Week: Bahas Gedung Hijau

Forum Diskusi Nusantara Banten Architecture Week menjadi wadah krusial bagi para akademisi dan praktisi kearsitekturan dalam merumuskan masa depan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Dosen Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Indonesia (ITI), Jerrino Soedarno, S.T., M.T., hadir sebagai narasumber utama dalam forum bergengsi tersebut pada Jumat, 14 Juni 2024, bertempat di ICE BSD City, Tangerang.

Perhelatan Forum Diskusi Nusantara Banten Architecture Week ini merupakan bagian tak terpisahkan dari rangkaian acara pameran bahan bangunan dan arsitektur terbesar nasional, IndoBuildTech Expo 2024 Part 1. Acara ini dihadiri oleh ratusan peserta yang antusias menyimak arah masa depan rancang bangun ramah lingkungan.

Urgensi Perencanaan Bangunan Gedung Hijau di Indonesia

Sesi utama dalam Forum Diskusi Nusantara Banten Architecture Week yang diinisiasi oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI Banten) ini memfokuskan pembahasan pada topik krusial, yaitu “Perencanaan Bangunan Gedung Hijau”. Diskusi mendalam ini membedah bagaimana prinsip-prinsip green building harus mulai diterapkan secara masif, khususnya untuk mengimbangi pesatnya laju pembangunan di wilayah Banten dan sekitarnya.

Dalam pemaparannya di Forum Diskusi Nusantara Banten Architecture Week, Jerrino Soedarno membagikan perspektif komprehensif yang mengawinkan landasan akademis dengan realitas praktik lapangan. Ia menekankan bahwa perencanaan gedung hijau saat ini bukan lagi sekadar tren estetika atau nilai tambah pemasaran, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk:

  • Menekan Emisi Karbon: Mengurangi jejak karbon dari proses konstruksi hingga operasional harian bangunan.

  • Efisiensi Energi Masif: Mengoptimalkan konsumsi listrik dan air melalui pencahayaan alami serta tata udara yang terencana.

  • Menjaga Ekosistem Perkotaan: Menjaga keseimbangan lingkungan hidup di tengah kawasan perkotaan yang semakin padat.

Sinergi Akademis dan Industri di Forum Diskusi Nusantara Banten Architecture Week

Keterlibatan aktif akademisi dalam Forum Diskusi Nusantara Banten Architecture Week menegaskan komitmen berkelanjutan dari civitas akademika Program Studi Arsitektur ITI untuk berkontribusi nyata pada perkembangan ilmu arsitektur berkelanjutan. Kehadiran perwakilan dosen di panggung profesional ini menjadi jembatan penting dalam menyalurkan pemikiran riset perguruan tinggi langsung ke dalam praktik industri konstruksi.

Selama berlangsungnya Forum Diskusi Nusantara Banten Architecture Week, interaksi dua arah terjadi sangat dinamis. Berbagai kalangan hadir memadati ruangan, mulai dari praktisi arsitek senior, pengembang properti, pelaku industri bahan bangunan, hingga mahasiswa arsitektur yang ingin memperdalam wawasan kearsitekturan terkini.

Implementasi Komitmen Pembangunan Berkelanjutan di Masa Depan

Penerapan prinsip bangunan gedung hijau yang dibahas dalam forum ini sejalan dengan regulasi nasional yang terus didorong oleh Kementerian PUPR untuk mencapai target Net Zero Emission. Gagasan dan wawasan mutakhir yang mengemuka selama sesi diskusi ini nantinya juga akan diintegrasikan kembali ke dalam bahan ajar perkuliahan di kampus ITI.

Langkah ini memastikan bahwa para calon arsitek muda tidak hanya dibekali kemampuan merancang struktur yang estetik, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis yang tinggi. Melalui partisipasi konsisten dalam perhelatan seperti Forum Diskusi Nusantara Banten Architecture Week, dunia akademis dan industri siap berkolaborasi melahirkan karya-karya arsitektur yang transformatif dan ramah lingkungan.

Konstruksi Kayu Modern: Mahasiswa Arsitektur ITI Studi Lapangan ke PIK 2

Konstruksi Kayu Modern: Mahasiswa Arsitektur ITI Studi Lapangan ke PIK 2

Tangerang Selatan – Konstruksi kayu kini kembali menjadi primadona dalam tren arsitektur berkelanjutan global. Dalam upaya memperkuat pemahaman praktis mengenai teknologi bangunan ramah lingkungan ini, sejumlah mahasiswa Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Indonesia (ITI) semester 4 dan 6 melaksanakan kegiatan studi lapangan (field study) ke Paviliun 120. Eksplorasi material ini berlokasi di Indonesia Design District (IDD), Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, pada Rabu (3/6).

Kegiatan akademik ini dirancang khusus untuk menjembatani teori perkuliahan di kelas dengan aplikasi riil di industri arsitektur modern. Di era green building, penguasaan terhadap konstruksi kayu yang presisi menjadi nilai tambah yang sangat krusial bagi calon arsitek.

Pentingnya Memahami Konstruksi Kayu untuk Iklim Tropis

Selama empat jam intensif, dari pukul 10.00 hingga 14.00 WIB, para mahasiswa mengikuti rangkaian agenda yang menggabungkan pemaparan materi, diskusi interaktif, serta observasi fisik bangunan. Eksplorasi ini dipandu langsung oleh tim ahli material yang menjelaskan bagaimana kayu dapat diolah menjadi struktur utama bangunan modern yang megah namun tetap ramah lingkungan.

Dalam kunjungan ini, mahasiswa mendapatkan product knowledge mendalam mengenai material kayu. Industri arsitektur saat ini dituntut untuk tidak hanya mengejar estetika, tetapi juga durabilitas. Oleh karena itu, materi yang dipaparkan meliputi:

  • Karakteristik anatomi dan sifat fisik berbagai jenis kayu struktural.

  • Tingkat durabilitas dan metode pengawetan material terhadap cuaca ekstrem.

  • Teknik pemilihan material yang ideal untuk konstruksi kayu di iklim tropis.

Tidak hanya sebatas pengenalan material, narasumber dari Paviliun 120 juga membedah sistem konstruksi kayu pada bangunan mereka. Paviliun 120 sendiri dikenal luas di kalangan arsitek tanah air karena memiliki detail struktur yang presisi, estetis, dan menerapkan prinsip-prinsip tektonika kayu maju yang menentang batasan konvensional.

Aplikasi Praktis Tektonika dan Metode Sambungan Kayu

Setelah sesi paparan dan tanya jawab interaktif, kegiatan dilanjutkan dengan observasi lapangan terpandu. Pada sesi ini, mahasiswa tidak hanya melihat visual bangunan, tetapi juga melakukan pengukuran langsung (on-site measurement) untuk memahami dimensi struktural, modulasi material, dan skala ruang secara akurat.

Melalui pengukuran langsung, mahasiswa dapat melihat bagaimana sambungan (joint) pada konstruksi kayu bekerja menahan beban struktural bangunan. Pemahaman ruang secara tiga dimensi ini sangat sulit didapatkan jika hanya mengandalkan modul perkuliahan dua dimensi atau layar komputer.

Sebagai penutup agenda, mahasiswa ditantang untuk melakukan observasi mandiri. Dengan antusias yang tinggi, mereka menuangkan detail-detail tektonika, sambungan, dan estetika ruang Paviliun 120 ke dalam bentuk sketsa arsitektur tangan (hand-sketching). Aktivitas menggambar manual ini terbukti efektif dalam melatih kepekaan spasial, kepekaan material, serta memori visual calon arsitek sebelum mereka merancang secara digital.

Menyiapkan Lulusan Arsitektur ITI yang Unggul dan Inovatif

Melalui kegiatan field study ini, mahasiswa Arsitektur ITI diharapkan mampu mengintegrasikan pengetahuan material penutup (cladding) dan sistem konstruksi kayu ke dalam rancangan proyek studio mereka di semester-semester berikutnya. Kemampuan merancang dengan material kayu modern seperti Cross-Laminated Timber (CLT) atau Glulam menjadi kompetensi masa depan yang terus didorong oleh program studi.

Turut hadir mendampingi mahasiswa selama kegiatan berlangsung, Intan Findanavy Ridzqo, S.T., M.Ars., selaku dosen pendamping dari Prodi Arsitektur ITI. Kehadiran dosen pendamping memastikan bahwa setiap observasi yang dilakukan mahasiswa di lapangan tetap selaras dengan capaian pembelajaran mata kuliah teknologi bangunan dan bahan bangunan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kurikulum di kampus kami, Anda dapat mengunjungi laman resmi Prodi Arsitektur ITI. Selain itu, bagi yang tertarik mempelajari tren global bangunan berkelanjutan berbasis kayu, Anda dapat membaca referensi standar internasional di Architecture 2030 sebagai rujukan desain ramah lingkungan.

Translate »